Powered By Blogger

Minggu, 25 Desember 2011

TEHNOLOGI PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Berbagai aktivitas dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kesejahteraan hidupnya dengan memproduksi barang dari sumber daya alam. Disamping menghailkan barang yang akan dikonsumsi manusia dihasilkan pula bahan buangan yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh manusia.
Bahan buangan ini makin hari makin bertambah banyak. Hal ini erat hubungannya dengan makin bertambahnya jumlah penduduk dan disatu pihak ruangan hidup manusia relative tetap. Bahan buangan ini dikenal dengan istilah Sampah ( Waste ) yang dalamwujudnya dapat berbentuk cair,padat dan gas.
Wastes dapat diartikan sebagai benda yang tidak dipakai dan tidak bernilai ekonomis, tidak diinginkan, dan dibuang, berdasarkan masalah dan cara-cara penanganannya.
Jenis Sampah pada penggolongannya dapat berdasarkan pada komposisi kimia, sifat bmengurai, mudah tidaknya terbakar, berbahaya dan karakteristiknya. Berdasarkan penggolongan komposisi kimianya maka sampah dibagi menjadi sampah organic dan sampah anorganic. Sampah yang secara alami dapat terurai dan sampah yang sukar terurai adalah penggolongan sampah berdasarkan sifat mengurai.
      Berdasarkan mudah tidaknya terbakar, maka sampah dibagi menjadi sampah yang mudah terbakar atau combustible . Demikian juga ada penggolongan sampah berbahaya dan tidak berbahaya.

1.2  Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah kita dapat mengetahui Teknologi pengomposan sampah dipengolahan sampah cempaka putih.

1.3  Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam praktikum ini adalah hanya membahas tentang Tinjauan Teknologi Pengomposan



BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Teknologi Pemanfaatan dan Pembuangan Akhir Sampah
      Pembuangan sampah akhir merupakan suatu hal yang tidak mungklin dicarikan alternative lain kecuali harus dimusnahkan atau dimanfaatkan
      Pemusnahan sampah yang telah dikenal sejak dulu adalah memanfaatkan lahan atau tanah yang tersedia didaerah setempat untuk pembuangan akhir. Dalam pemikiran ini disebabkan karena pembiayaan, namunj demikian perlu pertimbangan tertentu yaitu:
  1. Dampak Lingkungan
  2. Pemanfaatan dalam penggunaan daerah bekas pembuangan
  3. Pemakaian lahan yang bersifat sementara, sehingga memerlukan penilaian yang lebih teliti
  4. Perencanaan darurat, yaitu dengan memanfaatkanya daerah-daerah bekas bencana alam.
Atas dasar tersebut maka alternative pembuangan akhir pada permukaan tanah, cara sanitary landfill adalah cara yang paling tepat bagi pemusnahan sampah akhir.
            Cara pemusnahan sampah dapat dilakukan dengan memanfaatkan kembali sampah dari teknologi yang rendah sampai teknologi yang tinggi. Tekhnologi pemanfaatan dan pembuangan akhir sampah digolongkan menjadi:
  1. Memanfaatkan sampah dengan teknik pengelolaan menjadi bahan yang berguna antara lain kompos dan gas bio.
  2. Memusnahkan sampah atau mereduksi seperti insenerator.
2.2        Kompos
Pengolahan sampah garbage (organic) secara biologis dan berlangsung dalam suasana aerobic dan an aerobic. Dekomposisi sampah dengan batuan bakteri, di peroleh kompos atau humus. Dekomposisi an aerobic berjalan dengan sangat lambat & menimbulkan bau, tetapi dekomposisi aerobic berjalan relative cepat dari dekomposisi anaerobic dan kurang menimbulkan bau.
Agar di peroleh kompos yang baik dan berfungsi sebagai penggembur tanah ( soil condition ), sehingga mempertinggi tampungan air, maka dalam pelaksanaan pembuatan kompos perlu di perhatikan beberapa factor penting yaitu :
1.      Besarnya partikel garbage ( bahan organic )
Untuk mendapatkan hasiol optimum, sampah garbage di potong-potong sebesar 1-3 inchi.
2.      Pengadukan
Untuk mencegah pengeringan, pengumpulan dan penyaluran udara, bahan yang di komposkan harus di campur aduk pada waktu yang telah di jadwalkan secara teratur atau bila diperlukan.
3.      Penyemaian
Waktu pengomposan dapat di perpendek dengan penyemaian yang menggunakan sampah yang telah mengalami dekomposisi sejumlah 15% berat, “ sewage slude “. Nutrient juga bias di tambah untuk cxampuran bahan compos. Bila ini di tambahkan maka kelembaban akhir merupakan variable yang harus di awali
4.      Udara ( Oxigen )
Udara dengan sekurang kurangnya mengandung 50%  Oxigen yang harus mencapai seluruh bagian kompos, untuk mendaptkannya harus yang optimum khususnya pada system mekanik.
5.      Kelembaban ( Kandungan Uap Air )
Kandungan uap air seharusnya diantara 50-60 % selama proses pengomposan yang optimum kira-kira 55%.
6.      Suhu optimum untuk stabilisasi secara biologis antara 45-55%, untuk menghasilkan yang baik suhu seharusnya diatur antara 50-55 C. Untuk beberapa hari pertama dan antara 55 – 60 C, untuk sisa waktu pengomposan. Bila suhu sampai 66 C aktivitas Biologis dapat direduksi secara bermakna.
7.      C/ N Ratio
Telah ditemukan bahwa C-N Ratio dalam berat antara 35-50 adalah optimum untuk pengomposan aerobic. Pada ratio yang lebih rendah kelebihan Nitrogen akan diubah menjadi Amoniak.
8.      pH
pH harus dicegah meningkat diatas 8,5 untuk memperkecil hilangnya nitrogen dalam pembentukan gas ammonia.
9.      Bakteri dan Pengawasan bakteri phatogen
Mikroorganisme sangat dibutuhkan dalam proses pembusukan,sebagian besar dalam peristiwa pembusukan, bahan-bahan organic adalah jenis bakteri, fungi, dan actynomycetes. Bila pengomposan berjalan dengan semestinya hal ini memungkinkan untuk mematikan pathogen rumput liar, biji-bijian,. Untuk itu suhu diatur 60-70 C untuk waktu 24 jam.
            Dengan pertimbangan diatas, dikenala ada beberapa metoda dalam pembuatan kompos yaitu:
1.      Alamiah
-         Tradisional
-         Sederhana
2.      Mekanis/Modern
Metoda tradisional banyak dilakukan oleh petani, yaitu penghancuran bahan organic tanpa udara, caranya dengan membuat tumpukansampah didalam lubang tanah atau diatas tanah tanpa dibalik-balik, cara ini memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan kompos dan timbul bau dari gas yang H2S, dan NH3.
Metoda sederhana adalah peningkatan dari metoda tradisional, disamping waktu untuk mendapatkan kompos relatip pendek dibandingkan metoda tradisional dan kurang menimbulkan bau. Cara ini memerlukan pengadukan dengan membalik-balikan sampah, dapat pula menambah nutrient yang berupa Lumpur atau kotoran binatang.
Metoda mekanis/modern adalah dikerjakan dipabrik untuk menghasilkan kompos dengan waktu yang singkat. Sampah yang telah dipisahkan dari bahan organic bukan organic ( karet,palstik,logam_) dipotong-potong kecil dengan alat mekanis, selanjutnya dimasukkan pada digester/stabilisator agar terjadi dekomposisi pada digester ini perlu pengaturan suhu,udara dan pengadukan, setelah 3-5 hari dapat menghasilkan kompos dan dapat pula ditambah zat kimia tertentu untuk keperluan tanaman ( seperti carbon, nitrogen, phosphor, sulphur, dll ).


BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Waktu Pelaksanaan
 Kegiatan praktek ini dilakukan pada
Hari                  : Selasa
Tanggal            : 3 mei 2011
Pukul                : 08.00 s/d Selesai

3.2 Lokasi
            Adapun lokasi praktek ini dilakukan di Rt 05 Kel. Cempaka Putih
3.3 Hasil Kegiatan
            Dalam wilayah kerja tempat pengomposan sampah Cempaka Putih terdiri dari sekitar tempat pengolahan tersebut. Yang mana setiap rumah menghasilkan sampah domestic yang berbeda-beda karakteristiknya, dimana seluruh sampah akan diangkut setiap harinya dengan Gerobak sampah.  pengambilan sampah dari pagi hingga tengah hari, setelah sampah selesai diangkut semuanya, kemudian dari tengah hari sampai sorenya adalah saatnya untuk memilah sampah sebelum dilakukan pengomposan.
            Proses pengomposan sendiri dilakukan oleh 3 orang pekerja, tetapi pekerja yang lebih dominan tugasnya disini ialah satu orang selain bertugas dalam memilah, ia juga bertugas mengambil seluruh sampah yang ada di seluruh kawasan atau wilayah kerja tersebut.
            Setelah sampah dipilah menurut jenisnya maka sampah tersebut dikumpulkan dan kurang lebih dalam waktu 1 minggu sampah tersebut digiling oleh mesin penggiling, penggilingan ini bertujuan untuk membuat pengomposan lebih efektif karena hasilm dari penggilingan ini adalah berupa bubur sampah sehingga kompos akan menjadi lebih berkualitas, dalam melakukan penggilingan sampah dibubuhkan obat EM4 agar sampah lebih cepat digiling dan dalam proses pengomposannya berjalan dengan baik, kemudian selanjutnya setelah digiling sampah tersebut disimpan/difermentasi agar menjadi pupuk kompos dan telah netral pH nya dan suhunya sesuai dengan suhu lingkungan.

           

3.4  Permasalahan
            Dalam upaya melakukan proses 3R, salah satunya adalah mengurangi vol sampah dengan cara pengomposan, dari hasil praktek yang telah dilakukan ditemukan berbagai masalah yaitu:
-         Masyarakat mencampur adukkan semua karakteristik sampah, sehingga petugas harus melakukan pemilahan dan memakan waktu yang lama.
-         Karena tidak dijaga pada malam harinya, maka sampah beresiko akan diserakkan oleh hewan pengganggu.
-         Keterbatasan sarana dan prasarana dalam pengomposan tersebut.
-         Lahan yang digunakan masih terlalu sempit
-         Apabila tidak selesai dikerjakan, maka sampah akan dihinggapi banyak lalat dan serangga lainnya.
3.5    Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah yang dapat dilakukan terhadap masalah diatas adalah sebagai berikut:
-         Masyarakat harus memisahkan sampah basah dan kering agar memudahkan petugas untuk mengelola sampah tersebut.
-         Lahan yang digunakan sedapat mungkin diperluas sehingga kapasitas      pengomposan dapat diperbanyak.
-         Hindarkan tumpukan sampah dari gangguan serangga dan binatang lainnya karena binatang tersebut dapat menimbulkan masalah baru seperti pencemaran sampah yang bertaburan dimana-mana.



BAB IV
PENUTUP


5.1        Kesimpulan
Dari hasil kegiatan praktek pengomposan yang telah dilakukan di Perumnas Aurduri dapat diambil kesimpulan bahwa:
-         Kegiatan yang dilakukan disana sudah menggunakan peralatan dengan teknlogi yang lumayan canggih.
-          Wilayah kerja tempat pengomposan tersebut meliputi sekitar tempat pengolahan kompos tersebut
5.2  Saran
-         Sebaiknya pekerja menggunakan APD dalam melakukan pekerjaannya untuk menghindari terjadinya kecelakaan ataupun cidera karena bahaya yang ditimbulkan dari sampah, karena kondisi sampah ada yang berupa benda tajam seperti pecahan kaca ataupun kaleng serta benda tajam lainnya.
-         Pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan lagi ketersediaan dan kelengkapan alat penunjang dalam melakukan pengomposan di tempat tersebut.
-         Masyarakat setempat harus lebih selektif lagi terhadap sampah dan karakteristiknya, untuk memudahkan pekerja melakukan pekerjaannya dalam pengomposan tersebut.
-         Masyarakat seharusnya berpandangan terhadap sampah itu tidak hanya sebagai bahan buangan yang tidak bernilai ekonomis lagi, tetapi sebagai bahan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.




SANITASI HYGIENE RUMAH MAKAN

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
   Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping kebutuhan sandang bagi kelangsungan hidupnya. Makanan yang bersih dan aman dihasilkan oleh berbagai tempat pengolahan makanan (TPM), akan memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Rumah makan merupakan tempat pengolahan makanan yang memproduksi dan menjual berbagai jenis makanan dan minuman bagi masyarakat luas yang cenderung berkembang pesat. Hal ini sejalan dengan pergeseran pola hidup dari kebiasaan makan dirumah menjadi makan dirumah makan.
Sebagai konsekuensi dari perkembangan rumah makan diperlukan upaya penyehatan makanan dan minuman dengan tujuan agar kemampuan masyarakat dalam mengelola dapat meningkat sehingga masyarakat terhindar dari gangguan kesehatan atau penyakit bawaan makanan/keracunan makanan. Salah satu upaya penyehatan makanan dan minuman yang dilakukan adalah pengawasan rumah makan.

1.2 Tujuan
         1.2.1.   Umum
         Untuk mengetahui hygiene sanitasi Rumah Makan Bunda Jaya.
1.2.2.      Khusus
Untuk mengetahui Variabel apa saja yang terpenuhi dan tidak terpenuhi hygiene sanitasinya.

1.3. Ruang Lingkup
             Adapun ruang lingkup pada laporan ini hanya membahas tentang sanitasi rumah makan Bunda Jaya.


BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1.   TINJAUAN TEORI
       Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/Vll/2003 tentang persyaratan hygiene sanitasi rumah makan dan restoran pada pasal (1) terdapat pengertian rumah makan dan restoran. Rumah makan adalah setiap tempat usaha komersial yang ruang lingkup kegiatannya menyediakan makanan dan minuman untuk umum di tempat usahanya.
        Kebersihan di Rumah makan sangat penting, mengingat salah satu fungsi dari rumah makan yaitu sebagai tempat menjual makanan dan dihidangkan kepada pembeli. Sebagaimana tempat umum lainnya, rumah makan perlu mendapat pengawasan khusus mengenai keadaan sanitasinya. Bila tidak maka akan menimbulkan hal – hal yang tidak diinginkan seperti timbulnya penyakit menular.

2.2.   TUJUAN SANITASI RUMAH MAKAN
       Adapun tujuan dari sanitasi rumah makan adalah :
·        Agar makanan dan minuman yang dihasilkan restoran dan rumah makan dalam keadaan bersih dan aman dikonsumsi
·        Mencegah terjadinya gangguan penyakit dan keracunan yang ditimbulkan atau disebabkan oleh pengotoran makanan dan minuman selama proses pengolahan dan penyajian
·        Meningkatkan hygiene perseorangan penjamah makanan dan perilaku sehat penjamah makanan

2.3.   PERSYARATAN HYGIENE SANITASI  RUMAH MAKAN.
1.   Lokasi
      Rumah makan tidak berada pada arah angin dan pada jarak kurang dari 100 meter dari sumber pencemaran debu, asap, bau dan cemaran lain.
2.   Bangunan
      Harus terpisah dengan tempat tinggal termasuk tempat tidur, kokoh/kuat/permanen, rapat serangga dan tikus.
3.   Pembagian Ruang
      Terdiri dari dapur dan ruang makan, ada toilet, ada gudang bahan makanan, ada ruang karyawan, ada ruang administrasi, dan ada gudang peralatan.
4.   Lantai
      Harus bersih, kedap air, tidak licin, rata, kering, konus ( tidak membentuk sudut mati)
5.   Dinding
      Harus kedap air, rata, bersih
6.   Ventilasi
      Tersedia dan berfungsi baik, menghilangkan bau tak enak, cukup menjamin rasa nyaman
7.   Pencahayaan / Penerangan
      Tersebar merata disetiap ruangan, intensitas cahaya 10 fc, tidak menyilaukan.
8.   Atap
      Tidak menjadi sarang tikus dan serangga, tidak bocor, cukup landai.
9.   Langit-langit
      Tinggi minimal 2,4 meter, rata dan bersih, tidak terdapat lubang-lubang
10. Pintu
      Rapat serangga dan tikus, menutup dengan baik dan membuka arah luar, terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan.
11. Air bersih
      Jumlah mencukupi, tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna, angka kuman tidak melebihi nilai ambang batas, kadar bahan kimia tidak melebihi nilai ambang batas.
12. pembuangan air limbah
      Air limbah mengalir dengan lancar, terdapat grease trap, saluran kedap air dan saluran tertutup
13. Toilet
      Bersih, letaknya tidak berhubungan langsung dengan dapur atau ruang makan, tersedia air bersih yang cukup tersedia sabun dan lap pengering, toilet untuk pria terpisah dengan wanita.
14. Tempat sampah
      Sampah diangkut tiap 24 jam, disetiap ruang penghasil sampah tersedia tempat sampah, dibuat dari bahan kedap air dan mempunyai tutup, kapasitas tempat sampah terangkat oleh seorang petugas sampah
15. Tempat cuci tangan
      Tersedia air cuci tangan yang mencukupi, tersedia sabun dan alat pengering/lap, jumlah cukup untuk pengunjung dan karyawan
16. Tempat mencuci peralatan
      Tersedia air dingin dan panas yang cukup, terbuat dari bahan yang kuat, aman dan halus, terdiri dari tiga bilik/bak pencuci
17. Tempat pencuci bahan makanan
      Tersedia air pencuci yang cukup, terbuat dari bahan yang kuat, aman dan halus, air pencuci yang dipakai mengandung larutan cuci hama
18. Locker karyawan
      Tersedia locker karyawan dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, dan mempunyai tutup rapar, jumlahnya cukup, letak locker dalam ruang tersendiri, locker untuk karyawan pria dan wanita terpisah.
19. Peralatan pencegah masuknya serangga dan tikus
      Setiap lubang ventilasi dipasang kawat kassa serangga, dipasang terali tikus, persilangan pipa dan dinding ditutup rapat, tempat tandon air mempunyai tutup dan bebas jentik nyamuk.
20. Dapur
      Bersih,ada fasilitas penyimpanan makanan, tersedia penyimpanan makanan panas, ukuran dapur cukup memadai, ada cukup dan cerobong asap, terpasang tulisan pesan-pesan hygiene bagi penjamah/karyawan.
21. Ruang makan
      Perlengkapan ruang makan selalu bersih,ukuran ruang makan minimal 0,85 m2 perkursi tamu, pintu masuk buka tutup otomatis, tersedia fasilitas cuci tangan yang memenuhi estetika, tempat peragaan makanan jadi tertutup.
22. Gudang makanan
      Tidak terdapat bahan lain selain bahan makanan, tersedia rak-rak penempatan bahan makanan sesuai dengan ketentuan, kapasitas gudang cukup memadai, rapat  serangga dan tikus.
23. Bahan makanan
      Kondisi fisik baik, angka kuman dan bahan kimia makanan memenuhi persyaratan yang ditentukan, bahan makanan berasal dari sumber resmi, bahan makanan kemasan terdaftar pada Depkes. RI

24. Makanan jadi
      Kondisi fisik makanan jadi baik, angka kuman dan bahan kimia makanan memenuhi persyaratan yang ditentukan, makanan jadi kemasan tidak ada tanda-tanda kerusakan dan terdaftar pada Depkes. RI
25. Proses pengolahan
      Tenaga pengolah memakai pakaian kerja dengan benara dan cara kerja yang bersih, pengambialan makanan jadi menggunakan alat yang khusus, mengguanakan peralatan dengan benar.
26. Penyimpanan bahan makanan
      Suhu dan kelembaban penyimpanan sesuai dengan persyaratan jenis makanan, ketebalan penyimpanan sesuai dengan persyaratan jenis makanan, penempatan terpisah dengan makanan jadi, tempat bersih dan terpelihara, disimpan dalam aturan sejenis dan disusun dalam rak-rak.
27.Penyimpanan makanan jadi
      Suhu dan waktu penyimpanan dengan persyaratan jenis makanan jadi, cara penyimpanan tertutup.
28. Cara Penyajian
      Suhu penyajian makanan hangat tidak kurang dari 600C, pewadahan dan penjamah makanan jadi menggunakan alat yang bersih, cara membawa dan penyajian makanan dengan tertutup, penyajian makanan harus pada tempat yang bersih.
29. Ketentuan peralatan
      Cara pencucian, pengeringan dan penyimpanan memenuhi persyaratan agar selalu dalam keadaan bersih sebelum digunakan, peralatan dalam keadaan baik dan utuh, peralatan makan dan minum tidak boleh mengandung angka kuman yang melebihi nilai ambang batas yang ditentukan, permukaan alat yang kontak langsung dengan makanan tidak ada sudut mati dan halus, peralatan yang kontak langsung dengan makanan tidak mengandung zat beracun.
30. Pengetahuan/sertifikat hygiene sanitasi makanan
      Pemilik/pengusaha perna mengikuti kursus/temu karya, supervisor pernah mengikuti kursus, semua penjamah makanan pernah mengikuti kursus, salah seorang penjamah pernah mengikuti kursus


31. Pakaian kerja
      Bersih, tersedia pakaian kerja seragam 2 stel atau lebih, penggunaan khusus waktu kerja saja, lengkap dan rapi
32. Pemeriksaan kesehatan
      Karyawan/penjamah 6 bulan sekali check up kesehatan, pernah divaksinasi chotypha/thypoid, bila sakit tidak bekerja dan berobat ke dokter, memiliki buku kesehatan karyawan
33. Personal hygiene
      Setiap karyawan/penjamah makanan berperilaku bersih dan berpakaian rapi, setiap mau kerja cuci tangan, menutup mulut dengan sapu tangan bila batuk-batuk atau bersin, menggunakan alat yang sesuai dan bersih bila mengambil makanan.


BAB III
HASIL KEGIATAN


3.1 waktu pelaksanaan
Hari dan tanggal                  :  Selasa, 9 November 2010
Waktu Pelaksanaan            : Pukul 15.00 WIB s/d Selesai.

3.2 lokasi praktek
Rumah Makan BUNDA JAYA Jalan Sumatera NO. 48 Jelutung

3.3. Gambaran umum lokasi
         Rumah makan ini terletak di jalan Sumatera No. 48 Jelutung,  tepat dipinggir jalan raya, bangunannya kokoh/kuat/permanen, dan bangunannya merupakan Ruko.

3.4 Hasil Kegiatan
Nama rumah makan / restoran                 : Bunda Jaya
Alamat                                                    : Jalan Sumatera No. 48 Jelutung
Nama pengusaha/penanggung jawab        : Prawanto. ST
Jumlah karyawan                                     : 6  Orang
Jumlah penjamah makanan                       : 3  Orang
Nomor izin usaha                                     : 517 / 274 / ATIC / 2001
Nama pemeriksaan                                  : Kelompok IV
Hasil skore tingkat mutu/laik hygiene sanitasi Rumah makan Bunda Jaya adalah :
581,5
Sedangkan Batas skore tingkat mutu / laik hygiene sanitasi minimal 700 termasuk uji laboratorium dan penggunaan alat pengukur dikarenakan kita keterbatasan alat dan untuk uji laboratorium maka skore 700 – 84 (uji lab dan penggunaan alat) = 616
Jadi batas skore yang kita gunakan adalah 616
Dari hasil pemeriksaan kelaikan hygiene sanitasi rumah makan Bunda Jaya maka rumah makan ini belum memenuhi syarat kelaikan hygine sanitasi rumah makan.
Variabel-variabel yang belum terpenuhi hygiene sanitasi rumah makan Bunda Jaya adalah :
1.      Lokasi rumah makan dekat dengan sumber pencemaran yaitu debu dari jalan
2.      Belum memiliki locker karyawan
3.      Belum memiliki gudang bahan makanan
4.      Belum memiliki ruang karyawan
5.      Bangunan belum rapat serangga dan tikus
6.      Belum menggunakan seragam kerja


3.5 Permasalahan
3.5.1.   Masih kurangnya kualitas atau kelaikan hygiene sanitasi rumah makan Bunda jaya dan masih banyak fasilitas yang kurang lengkap.
3.5.2.      Masih rendah/kurangnya pengetahuan karyawan terhadap hygiene sanitasi rumah makan.

3.6 Pemecahan Masalah
3.6.1.   Perlu ditingkatkan mutu atau kelaikan hygiene sanitasi rumah makan dan fasilitasnya juga perlu ditingkatkan agar pengunjung menjadi lebih nyaman
3.6.2.      Perlu diadakan pendidikan untuk karyawan/penjamah makanan agar lebih memperhatikan hygiene sanitasi rumah makan



BAB IV
PENUTUP

4.1             Kesimpulan
4.1.1        Rumah makan Bunda Jaya belum memenuhi syarat hygiene sanitasi rumah makan maka perlu ditingkatkan lagi hygiene dan fasilitasnya.
4.1.2        Yang belum terpenuhi hygiene sanitasinya adalah :
1.      Lokasi rumah makan dekat dengan sumber pencemaran yaitu debu dari jalan.
2.      Belum memiliki locker karyawan
3.      Belum memiliki gudang bahan makanan
4.      Belum memiliki ruang karyawan
5.      Bangunan belum rapat serangga dan tikus
6.      Belum menggunakan seragam kerja

4.2 Saran
4.2    Rumah makan Bunda Jaya harus lebih meningkatkan Hygiene sanitasi dan fasilitas-fasilitasnya.
4.3    Karyawan rumah makan Bunda Jaya harus lebih memperhatikan Hygiene sanitasi.